November Kelabu (Chapter 2: Robby)

Senin, 11 November 2013

Hari ini aku sakit. Aku tidak berangkat ke kantor. Badanku serasa lumpuh dan aku tidak bisa melakukan apapun kecuali tidur. Tenggorokanku seperti tercekat sesuatu yang membuatku jadi malas makan.

Aku belum sempat mengabari Robby. Aku terlalu malas untuk beranjak meraih ponselku di atas meja rias.

12.00

Tok. Tok. Tok.

Aku terbangun, menatap pintu, lalu kembali terpejam. Tidak peduli siapa yang mengetuk pintu. Kupikir, itu Ibuku. Karena hanya ada aku dan Ibu di rumah. Kak Ega dan Suaminya sudah pulang ke rumah mereka, yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah ini. Ayahku kerja.

"Alisa..."

Aku membuka mata lagi.

Itu Robby. Aku melirik jam. Pukul 12. Ah, memang waktunya Robby istirahat.

"Al, boleh saya masuk?" Tanyanya.

Aku diam saja.

Pintu kamarku terbuka. Aku sedang berusaha mendudukkan posisi. Begitu aku menatap Robby, ia tersenyum. Aku pun demikian.

Aku melihat Robby membawa sesuatu di tangannya. Setangkai bunga dan semangkuk bubur, barangkali.

Satu hal, Robby gagah sekali.

"Selamat siang, Al." Sapanya. Ia kemudian duduk di pinggir ranjangku kemudian menaruh bunga mawar merah dan mangkuk buburnya. "Saya tadi ke kantor kamu. Barangkali kamu kenapa-kenapa sampai nggak kasih kabar."

Aku senyum. Lalu berkata pelan, "Maaf."

"Nggak apa-apa. Yang penting sekarang saya udah tau." Robby tersenyum, lagi. "Al, kamu makan, ya. Saya bawain bubur ayam kesukaan kamu."

Aku mengernyit. "Bubur ayam.... Mang Didi?"

"Iya. Kenapa?"

"Itukan jauh banget, Rob."

"Mama bilang kamu nggak mau makan dari pagi. Jadi, aku coba belikan ini." Terang Robby sembari mengaduk-aduk buburnya dan siap menyuapiku. "Nih, buka mulutnya."

Aku membuka mulut seraya melahap sesendok bubur yang disodorkan Robby.

Aku suka sekali bubur Mang Didi. Tapi, letaknya agak jauh, hampir perbatasan kota. Kalau makan bubur ini, aku bisa habis sampai 3 mangkuk. Dulu, waktu awal pacaran sama Robby, aku sering sekali pergi ke sana. Waktu tahun barupun tetap buka. Aku ingat waktu itu aku dan Robby sempat tahun baruan di bubur Mang Didi.

12.15

Buburnya hampir habis.

"Sayang, tau nggak." Tanya Robby. Aku mengangkat kedua alisku, meminta ia meneruskan kata-katanya. "Ini buburnya 2 porsi. Kamu hampir habis."

Aku terkikik pelan. "Aku rakus, ya?"

"Hahaha..."

Selepas itu, aku merasa lebih baik. Aku berbincang dengan Robby banyak hal. Nyaman sekali. Kalau sama dia, segalanya jadi terasa lebih cepat. Aneh.

Hingga pukul 1 siang, dia harus segera kembali ke kantornya.

20.00

"Halo." Sapaku pada seseorang di seberang telepon.

"Halo, Al." Jawab suara di seberang. Itu Robby. Aku yang menghubunginya. "Maaf, tadi aku lembur. Terus tadi abis jemput Risa di rumah temannya. Ini aku baru sampai."

"Oh, iya, nggak apa-apa."

"Kamu gimana? Sudah baikan?"

"Banget." Jawabku mantap. Memang, aku sudah merasa sangat membaik. "Berkat bubur Mang Didi dan mawar kamu."

"Hahaha... mau aku belikan lagi?"

"Sekarang?"

"Boleh, kalau kamu mau."

"Kamu cape."

"Nggak, Al. Kalau kamu mau, aku belikan sekarang."

"Nggak, Robby, bercanda, he he."

Robby tidak menjawab. "Kamu belum tidur?"

"Belum."

"Tidur, biar besok sehat." Kata Robby. Kedengarannya dia baru masuk ke dalam rumah.

"Sekarang juga sudah sehat, kok." Jawabku. "Ya sudah, sekarang kamu mandi, makan, terus istirahat, ya."

"Iya, sayang."

"Oh, iya, Robby."

"Ada apa?"

"Maaf, ya."

"Untuk?"

"Aku nggak sempat ke catering."

Robby diam sejenak. "Al... Dengar kamu sudah membaikpun aku sudah senang. Nggak apa-apa. Nanti kita ke catering bareng."

"Iya, Robby."

Lagi, Robby terdiam. Sepertinya ia sedang sibuk melakukan sesuatu di rumahnya. "Al, aku harus bantu Mama packing. Aku tutup ya?"

"Oh, iya, iya. Salam untuk Mama, ya."

"Iya. Selamat malam, Alisa."

Aku tidak menjawab. Lalu, kututup teleponnya.

**

Selasa, 12 November 2013

Hari ini aku lembur. Kerjaanku menumpuk. Aku adalah seorang editor majalah anak-anak. Sekaligus menjadi penulisnya, kadang-kadang. Aku sudah bercita-cita menjadi editor majalah sejak kecil. Rasanya, menyenangkan saja menjadi orang yang pertama tahu isi sebuah majalah.

18.15

Aku berdiri di halaman depan kantorku. Di sampingku ada Lena, teman dekatku sejak kuliah, sekaligus teman sekelas Robby semasa SMA.

Biar kuceritakan sedikit tentang kami.

Aku dan Robby merupakan teman kuliah. Kami seangkatan namun berbeda jurusan. Aku mengambil sastra Indonesia dan Robby mengambil akuntansi. Kami kenal saat semester 6. Tapi, hanya sebatas teman.

Tiga tahun kemudian, aku dengar dia sudah bekerja di perusahaan gula. Ayahnya seorang direktur utama di perusahaan tersebut. Saat itu, akupun sudah bekerja di kantorku yang sekarang ini.

Kami kenal melalui Lena.

Lena merupakan teman baikku semasa kuliah. Bahkan, kami pernah satu kos bersama. Suatu hari, Lena mengajakku ikut reuni bersama teman-teman SMAnya. Padahal, kami tidak satu SMA. Tapi, Lena bilang, tidak apa-apa. Untuk menemani, katanya.

Dari reuni itu, aku kenal dengan Robby.

Itu terjadi dua tahun yang lalu.

Ya, aku dan Robby sudah bersama sejak 2 tahun lalu. Waktu aku masih berusia 23 tahun.

Sampai sekarang kami masih bersama.

18.30

Mobil Robby berhent tepat di hadapan tempatku dan Lena berdiri. Robby membuka jendela mobil.

"Heeeyyy, Robby. Apa kabar, lo?? Inget gue nggak? Parah, sih, kalo nggak inget." Cerocos Lena sebelum Robby sempat mengatakan apa-apa.

Robby awalnya kaget. Namun, kemudian, ia biasa saja. "Ingetlah, gila. 3 tahun sekelas masa lupa."

"Eh, jangan lupa, 4 tahun satu universitas juga! Hahaha." Ujar Lena lagi. Robby senyum saja. "Jangan lupa juga, mak comblang lo sama Alisa!"

"Iya, deh, iya." Jawab Robby. Ia kemudian melirikku. "Al, maaf, ya, lama."

Aku senyum. "Nggak apa-apa."

"Cieeee yang mau merit. Harusnya lo terimakasih banyak sama gue, Rob. Berutang budi lo sama gue."

"Lah, kan gue inisiatif sendiri kali deketin Alisa." Sanggah Robby.

"Kalau gue nggak ajak dia ke reuni gimana?"

"Ya jodoh mah jodoh aja, Len. Besoknya, kan, bisa ketemu."

"Dimana coba?"

"Ya dimana aja. Iya nggak, Al?" Tanya Robby seraya melirikku dan menaik-turunkan alisnya.

Aku terkikik pelan. Dari awal aku melihat mereka, memang mereka sudah sangat akrab.

"Ya udah, ya udah. Sebagai tanda terimakasih lo, sekarang gue nebeng ya. Pleaseee."

"Udah gue duga. Pasti ada maunya nih anak."

"Hehehe. Rumah gue jauh, Rob. Ini udah malam. Motor gue mogok. Lo nggak kasian sama gue?" Lena memohon.

"Laki lo mana?"

"Wah, kurangajar, Al." Lapor Lena padaku. Lena memang masih sendiri.

Robby tertawa. "Ya sudah, ayo naik."

19.15

Kami sampai didepan rumah Lena.

"Len, aku nggak turun, ya." Ucapku.

"Oh, iya, iya, nggak apa-apa, Al." Jawab Lena seraya membuka pintu mobil. "Makasih banyak loh. Gue doain moga-moga lo berdua langgeng dan lancar pernikahannya."

"Aamiin... haha, Thanks, Len." Sahut Robby.

"Gue turun, ya. Dah!"

Selepas Lena turun, mobil Robby melaju lagi.

"Udah makan belum?" Tanya Robby memecah sunyi setelah 5 menit meninggalkan rumah Lena.

"Hmm... belum."

"Lapar nggak?"

"Lumayan."

"Makan dulu, yuk."

"Boleh, boleh. Dimana?"

"Mang Didi?"

"Hmmm... Lagi nggak pengen."

"Seafood?"

"Nah! Ayo." Sahutku sumringah.

19.50

Aku dan Robby sampai di rumah makan seafood favorit kami.

Terhitung sudah lebih dari 10 kali kami makan di sini sejak awal pacaran. Tapi, ini belum seberapa sering dengan Mang Didi, hehe.

Sudah kukatakan sejak awal, Robby adalah pria yang sempurna.

Aku memang suka seafood. Tapi, tidak dengan Robby. Ia bukan penikmat makanan laut. Malah, kadang-kadang, ia alergi. Tapi, tidak apa-apa, katanya. Ia selalu bilang tidak apa-apa ketika aku menginginkan sesuatu yang sebenarnya ia tidak suka. Bukan aku egois, namun, kalau kau tahu sosok Robby, ia akan berpura-pura baik-baik saja. Aku sering bilang padanya untuk selalu jujur jika dia tidak suka. Sampai saat ini, ia tidak pernah jujur. Atau mungkin, memang ia baik-baik saja. Aku tidak tahu. Ia adalah penyembunyi rahasia terbaik.

Makan malam kali ini sempurna. Aku sangat menikmatinya. Kami berbincang banyak hal. Terutama tentang masa lalu kami. Gara-gara membahas Lena, awalnya.

21.00

Aku sampai di rumah. Setelah Robby memberhentikan mobil, ia buru-buru membuka pintu dan bersiap turun.

Aku mencegahnya. "Nggak usah. Aku turun sendiri aja."

Robby biasanya membukakan pintu untukku dan mengantarku sampai masuk.

"Nggak apa-apa."

Kemudian, ia turun dan membukakan pintu untukku. Aku keluar. Lalu, berjalan menuju teras rumah.

"Makasih, ya." Kataku.

Ia senyum. "Kok sepi?"

"Iya, Mama paling sudah tidur."

Robby mengangguk-angguk. "Aku langsung pulang, ya."

"Iya. Hati-hati."

Kemudian, Robby berbalik badan dan berjalan meninggalkanku.

"Eeee... Robby!" Panggilku. Robby berhenti dan kembali menghadapku. "Selamat malam."

Lagi, ia tersenyum. "Malam, Alisa."

"Dah!"

**

Komentar

Postingan populer dari blog ini

November Kelabu (Chapter 4: Senin itu...)

November Kelabu (Chapter 3: Alfian)