November Kelabu (Chapter 3: Alfian)

Kamis, 14 November 2013

11.00

Aku sedang berada di kantor. Tapi, lagi bersiap-siap keluar. Ingin pergi ke catering untuk memesan makanan untuk pernikahanku.

Tadi, Robby telepon. Hari ini ia ditugaskan keluar kota sampai minggu. Jadi, ia tidak bisa menemaniku ke catering. Karena kawatir kelamaan pesan, aku memutuskan untuk memesannya sendiri. Robby setuju.

Aku bergegas keluar kantor. Panas sekali. Kemudian, menemui Lena di parkiran. Motornya sudah diperbaiki. Aku memintanya mengantarku ke catering. Ia setuju. Bosan, katanya. Jadi, dia ikut.

11.20

Aku dan Lena sampai di tempat catering.

"Al, aku tunggu disitu, ya." Pamitnya sambil menunjuk kedai kopi di seberang jalan. "Haus."

"Oh, iya, iya. Nanti kalau aku udah seleai, aku susul kesana, ya."

Lena mengacungkan jempol tanda setuju. Kemudian, ia pergi bersama motornya.

Aku memasuki tempat catering dan disambut oleh seorang pegawai yang berseragam serba biru, senada dengan tema bangunannya. Kemudian, aku diarahkan menuju meja penerima tamu dan disodorkan menu-menu untuk pesta pernikahan.

"Saya tinggal sebentar, ya, Mbak."

"Oh, iya, iya." Jawabku.

11.45

Aku selesai memilih. Menu jamuan pernikahanku nanti ada sambal goreng daging, sop jamur, salad, udang krispi, dan capcay. Semuanya total 1500 porsi. Untuk tanggal 30 November. Selesai.

Setelah membayar, aku bergegas meninggalkan catering.

"Eh, sorry." Kataku ketika aku tidak sengaja menabrak seseorang di pintu masuk. Aku sibuk mengabari Robby bahwa aku telah memesan cateringnya.

Tunggu.

Aroma ini...

Aku kenal.

Aku melirik pria yang kutabrak tadi. Dia sudah berlalu dan masuk ke catering.

Aku diam sejenak.

Ah, parfum seperti itu banyak. Pikirku.

Tapi, aku penasaran. Aku segera melangkahkan kaki kembali masuk ke dalam catering dan mencari pria tadi.

Pria itu membelakangiku. Tapi, rasanya, aku tahu siapa dia.

Dia seorang pria dengan tinggi 175cm, berambut spike hitam, kulit sawo matang, dan beraroma parfum gatsby warna biru. Aku hapal betul. Ia mengenakan kemeja putih dan celana hitam. Dari belakang, ia tampak persis seperti Robby. Persis sekali. Hanya saja ia sedikit lebih tinggi.

Aku menatap pria itu lama.

Satu menit

Dua menit

Aku tidak sabar.

"Alfian!"

Benar saja. Pria itu menoleh.

Deg.

Aku terdiam membatu seketika. Namun, badanku melemas. Tenggorokanku serasa tercekat sesuatu yang membuatku menjadi tidak bisa berkata-kata.

Pria itu menatapku. Dalam sekali. Dia juga terdiam.

Perasaan ini sungguh tidak bisa kujelaskan. Hati kecilku berkata: aku bahagia. Namun, aku rasanya ingin teriak dan menangis.

Aku menjatuhkan ponsel yang daritadi kugenggam. Tak tahu. Badanku lemas sekali. Rasanya ingin jatuh.

Sepersekian detik kemudian, aku melangkah. Pria itu pula demikian. Kami saling mendekat. Kemudian, ketika pria itu tepat berada di hadapanku, tanpa berkata-kata aku langsung mengayunkan tanganku ke tubuhnya dan mendekapnya erat. Erat sekali.

Aku menjatuhkan tubuhku dalam pelukannya.

Aku menangis sejadi-jadinya.

Ingin sekali aku teriak rasanya. Pria brengsek!!!

Aku memukuli punggungnya dengan kepalan tanganku yang melingkar di sekujur tubuhnya. Memukulnya keras sekali.

Aku kalap dalam perasaan yang tak jelas ini. Sesenggukan tanpa bisa kuhentikan.

Pria itu mengelus lembut rambutku. Ia berusaha menenangkan. Tapi, aku tidak bisa. Sama sekali. Kupererat dekapanku hingga rasanya aku tidak mau melepaskannya. Aku takut. Aku tidak peduli siapapun yang melihatnya. Aku benar-benar rindu sosok pria ini. Aku rindu kamu, Fian!

13.00

Aku kembali ke kantor dengan perasaan campur aduk. Tadi, Lena menjemputku secara paksa di catering dan membawaku kembali ke kantor. Aku menangis sepanjang jalan. Lena sampai kebingungan harus berbuat apa.

Sekarang, aku sedang duduk dibalik meja kerjaku. Lena ada, sedang mengambilkan minum untukku, katanya.

Setelah ia datang, aku memeluknya erat. Aku benar-benar lemah hari ini.

Lena bilang untuk menganggap hal tadi tidak terjadi. Aku bilang aku nggak bisa.

Lena bilang agar aku lebih tegas sama perasaanku. Aku bilang lagi, aku nggak bisa.

14.00

Hari ini semakin kacau ketika satpam kantorku datang menghampiriku dan memberitahu ada seseorang yang mencariku.

Awalnya, aku tidak mau keluar karena aku sudah tahu dia siapa.

Tapi, ketidakmauanku hanya bertahan sampai 5 menit.

Aku segera keluar.

Baiklah. Aku jujur. Aku rindu dengan pria itu.

Apa kabar dia?

14.15

Sudah 15 menit aku berada dalam keheningan bersama seorang pria di sampingku. Kami sedang berada di halaman belakang kantorku.

Sepi.

Aku tidak mau memulai meskipun sebenarnya banyak yang ingin kubicarakan padanya. Banyak yang ingin kutanyakan dan banyak unek-unek yang pengin aku lontarkan. Banyak sekali. Juga, cacian yang ingin aku ungkapkan padanya atas kebrengsekannya.

"Al... saya nggak tahu harus mulai darimana."

Aku diam saja. Bahkan, tidak sanggup menatapnya balik. Aku baru saja reda dari sesenggukku.

"Saya minta maaf, Al. Saya nggak tahu jadinya akan begini."

Aku masih terdiam. Sama sekali terdiam.

"Saya sekolah penerbangan 4 tahun, Al." Katanya.

Aku menahan sekuat tenaga emosi yang bergejolak dalam batinku serta tangis hebat yang siap keluar sewaktu-waktu.

"Saya ingin kasih kamu hadiah." Lanjutnya. Ia terdengar lirih. "Ini hadiahnya. Saya yang sekarang ini hadiahnya. Saya seneng sekali datang ke sini. Saya cari kamu. Hati saya bahagia, Al."

Air mataku hampir tak terbendung lagi.

"Tapi, sejak tadi, hati saya hancur, Al. Saya nggak berpikir bahwa hati kamu akan berubah. Terus terang, dari awal saya tinggalkan kamu, saya takut bertemu kamu dalam kondisi begini. Saya nggak nyangka ini terjadi."

Tanpa kata-kata, aku pergi.

Rasanya aku ingin ditelan bumi saja.

**

Minggu, 17 November 2013

Aku tidak menghubungi Robby sejak Kamis. Aku sudah bilang padanya, aku ada urusan yang sangat penting hingga tidak bisa dihubungi. Padahal, tidak. Aku ada di rumah. Tepatnya, di kamarku. Sejak hari Jumat.

Mama mengira aku sakit. Aku bilang tidak. Aku baik-baik saja. Hanya perasaanku sedang sakit. Sakit sekali.

Pernikahan merupakan hal yang sakral. Sekali seumur hidup, kalau kamu mau setia. Pernikahan merupakan awal dari kehidupan yang baru sampai akhir dari kehidupan itu sendiri. Ini bukanlah hal main-main yang dapat dicoba-coba. Kamu akan menyerahkan seluruh hidupmu dan seluruh yang kamu miliki pada seseorang yang menjadi pasanganmu.

Sebelum aku bercerita tentang perasaanku, aku tanya dulu. Sudikah kamu menyerahkan seluruh hidupmu dan seluruh yang kamu miliki pada seseorang yang bahkan tidak rela bersamamu? Aku yakin jawabanmu akan sama degan jawaban Robby, jika aku tanya padanya. Tentu tidak.

Ya.

Rasanya ingin kutanyakan hal tersebut pada Robby.

Yang menjadi kendala bukanlah hari pernikahanku yang kian dekat sehingga kawatir merecokkan segalanya.

Kendalanya ialah...

Robby merupakan manusia yang sempurna. Hingga tidak ada alasan untuk tidak rela hidup bersamanya. Robby adalah manusia yang baik. Dia sangat menghormatiku sebagai perempuan. Robby bukan pria yang menggunakan mulut dan fisik ketika marah. Ia menggunakan hatinya. Hati sucinya. Hingga ia tidak pernah sekalipun marah padaku. Bahkan, pertama kali ia melihatku menangis bukan karena dirinya, tapi karena film.

Begini. Biar kucerita sedikit tentang masa laluku.

Tiga hari lalu aku bertemu seseorang di catering. Namanya Alfian. Dia sekarang sudah menjadi pilot di salah satu maskapai terkenal di Indonesia. Dia gagah sekali. Berbeda dengan Alfian 7 tahun lalu.

Aku mengenalnya semasa SMA. Kami bisa dibilang pacaran meskipun aku dan dia tidak pernah saling menyatakan. Hubungan kami dekat sekali. Hingga kemana-mana, aku selalu bersama dia.

3 tahun masa SMA-ku habis bersama Alfian. Aku kenal dengan semua teman-teman kelasnya. Waktu itu dia siswa IPA dan aku siswa IPS. Jadi, kami tidak pernah sekelas. Aku akrab dengan semua teman-temannya.

Dia bilang, dia bahagia denganku. Sangat bahagia. Katanya, sebelum mengenalku, dia selalu disakiti oleh teman-teman wanitanya. Dia pernah jatuh cinta dengan seseorang, lalu dicampakkan. Dia pernah menyatakan cinta pada seseorang, lalu ditolak. Dia pernah pacaran dengan seorang gadis, lalu diselingkuhi. Dan hal-hal menyakitkan seperti itu tidak pernah lagi ia rasakan sejak bersamaku. Begitulah kisah Alfian mencintaiku.

Hari-hari kami indah. Sepulang sekolah, kami sering jalan-jalan dengan motor bebeknya menuju pelabuhan yang padahal tidak searah dengan rumah kami. Dipelabuhan, kami bercerita banyak hal.

Hampir setiap jam istirahat, aku pergi ke kelasnya. Main. Sampai aku kenal dengan teman-temannya.

Sekali dalam sebulan, tepatnya hari minggu, aku dan Alfian jalan-jalan dari jam 6 pagi. Sunmori, katnaya. Alfian merupakan pria yang jatuh cinta dengan riding. Hal tersebut yang membuatku tak asing dengan hobi Robby. Bahkan, Alfian pernah mengajakku pergi ke Bali menggunakan sepeda motor. Ia bilang, kalau suatu hari ia sudah sukses, ia ingin mengajakku berkendara motor sampai Bali. Aku megiyakan. Sepertinya menyenangkan.

Aku juga ingat. Dulu, sekolahku mendapat undangan dari kantor balai budaya bandung untuk mengirim 3 siswa terbaiknya untuk mengikuti acara jelajah budaya yang diselenggarakan kantor balai budaya bandung.

Aku dan Alfian curang.

Kami lansung mengajukan kepada guru seni untuk menunjuk aku, Alfian, dan Aldi, teman dekat Alfian waktu itu, untuk menjadi perwakilan sekolah pada acara jelajah budaya itu. Acara tersebut akan berlansung selama 3 hari di Sukabumi. Nanti, kami menginap disana. Yang mendorongku memaksa ingin ikut bukanlah Alfiannya, tapi apreiasiainya. Selepas acara itu, setiap perwakilan akan menerima amplop apreasiasi. Lumayan, untuk menambah uang saku, kata Aldi. Hahaha. Rasanya ingin kembali pada masa-masa itu.

Singkat cerita, akhir masa SMA, ketika kami kelas 3, semuanya sibuk membicarakan kuliah.

Oh, iya, kukenalkan lebih jauh lagi.

Alfian merupakan siswa bodoh. Bodoh sekali. Tapi, dia tidak nakal. Dia malas belajar. Dia tidak memikirkan masa depannya. Kemudian, aku ajak dia datang ke rumahku untuk belajar bersama. Dia datang. Tapi, aku kesal. Dia tidak serius dengan masa depannya.

Aku tidak menyerah. Aku dorong dia untuk mau belajar. Waktu itu semua siswa sedang ribut tentang kuliah negeri dan kedinasan. Akupun mengejar demikian. Sampai aku mengancam Alfian kalau dia tidak kuliah negeri atau kedinasan, berarti kami bukan jodoh. Aku tidak mau dengan dia.

Dia bilang, dia sayang sekali padaku. Dia tidak mau kehilanganku karena dia menjadi orang yang gagal kuliah negeri atau kedinasan.

Hingga dia berusaha keras untuk belajar.

Sampai tiba hari pengumuman kuliah negeri... dia tidak lolos. Sementara aku lolos di Jogja.

Aku bilang padanya, tidak apa-apa. Masih ada sekolah kedinasan.

Saat itu, aku yang seperti tidak yakin dengan masa depannya kalau dia tidak kuliah negeri atau masuk kedinasan. Justru aku yang ambisius dia harus masuk salah satunya.

Seminggu kemudian, tiba pengumuman sekolah kedinasan. Dia tidak lolos juga.

Aku marah besar. Aku bilang padanya sejak awal aku menyuruhnya belajar harusnya ia menurut. Ia diam saja waktu itu.

Sebulan kemudian, aku berangkat ke Jogja. Terakhir aku menghubunginya di stasiun melalui pesan singkat. Dia tidak membalas. Mungkin sakit hati karena aku marahi. Padahal, aku masih sangat menyayanginya. Sangat mencintainya. Tapi, waktu itu, aku terlalu kekanak-kanakkan dan tidak melihat sesuatu secara lebih luas.

Sejak saat itu, dia menghilang. Tidak pernah ada lagi kabar dari sosok Alfian yang selama 3 tahun menemani hari-hariku di SMA.

Aku rindu padanya... selama 7 tahun.

Ingin meminta maaf.

Bahwa mengakhiri hubungan tidak sebercanda itu.

Dulu harusnya aku lebih mendorongnya untuk mencari masa depannya. Tapi, malah sebaliknya. Aku mengancam dan meninggalkan dia.

Kau mengerti bukan, rasa sayang yang seperti itu?

Alfian baik. Ia sangat mengingatkanku pada sosok Robby. Aku seperti menemukan Alfian yang kedua. Tapi, entah mengapa, rasanya aku masih keberatan memberikan hatiku pada Robby. Aku masih dihantui oleh sosok Alfian.

Ternyata benar saja.

Sosok itu muncul lagi.

Tanpa berdosa.

**

15.00

Sudah pukul 15.00. Robby dipastikan sudah tiba di stasiun. Ia baru saja pulang dari Bandung, acara kantor. Maka dari itu, ketika aku bilang aku tidak bisa dihubungi, ia tidak keberatan. Ia juga sedang sibuk dengan tugasnya.

Aku memutuskan untuk menelpon Robby.

"Halo..." Ucapku.

"Hei, kamu baik-baik saja, kan, Al?"

"Iya. Baik-baik saja. Kamu dimana? Sudah sampai?" Tanyaku. Sebenarnya, aku tidak benar-benar ingin tahu.

"Baru sampai di stasiun. Ini lagi nunggu supir kantorku tapi belum datang." Katanya.

"Hmm... gitu."

"Kamu lagi apa, sayang? Masih sibuk?"

"Eeeee... Iya.... ini.... banyak yang harus aku selesaikan. Dikejar deadline, hehe."

Robby senyum saja, mungkin. Terdengar dari hembusan napasnya. "Oh, iya, Al... aku sudah pesan undangan. 1500 buah. Minggu depan jadi dan bisa langsung disebar."

Deg.

Aku terdiam beberapa saat.

"Al..??"

Masih terdiam.

Kemudian, aku mendengar ia berbicara dengan seseorang disana yang kutebak mungkin supirnya. Lalu, ia menutup panggilan tanpa pamit. Terdengar buru-buru sekali.

Dan seharian itu aku memecahkan rekor tidak keluar kamar.

Aku kalap kebingungan.

Terlebih malamnya aku mendapat pesan singkat dari nomor tak dikenal.

Saya rindu kamu, Al. Bisa ketemu?

Aku sudah tahu siapa pelakunya. Hal tersebut bertentangan dengan telepon Robby yang menyatakan bahwa ia sudah memesan udangan pernikahan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

November Kelabu (Chapter 4: Senin itu...)

November Kelabu (Chapter 2: Robby)