November Kelabu (Chapter 4: Senin itu...)
Senin, 18 November 2013
06.30
Barusan kak Ega memberitahuku bahwa mobil Robby sudah ada di depan. Padahal, baru saja aku mengirim pesan pada Robby untuk tidak mengantarku ke kantor. Tapi, mungkin Robby belum sempat membacanya.
Aku buru-buru memakan blazer hitam yang menggantung dibalik pintu dan bersegera keluar kamar.
Robby sudah menunggu di ruang tamu. Ia sedang berbincang dengan Ibuku. Mereka berdua tampak akrab sekali. Ya, Ibuku juga jatuh cinta pada Robby, barangkali.
Setelah pamit, aku dan Robby keluar dan memasuki mobil. Kemudian, melaju.
5 menit hening.
"Gimana kemarin urusan kantornya, Al?" Tanya Robby membuka obrolan seraya bergantian menengok ke arahku dan ke jalan. "Udah selesai?"
Aku berusaha tenang agar tidak ketahuan. "Oh... iya, lancar."
"Syukur, kalau begitu."
"Hehe, iya."
Kemudian, hening lagi beberapa saat.
"Sayang.." Panggil Robby memecah hening lagi. "Kemarin aku udah kontak temanku, si Rian, buat jadi EO pernikahan kita. Dan dia bilang bisa. Jadi, besok atau lusa kita ketemuan sama dia untuk ngobrolin acarnaya, ya."
"Oh... iya."
"Kamu kenapa?"
Aku berusaha lebih tenang agar Robby tidak curiga. "Nggak kenapa-kenapa, kok. Oh, iya, jam berapa ketemuannya??"
"Bener nggak kenapa-kenapa?" Robby meyakinkan tanpa menjawab pertanyaanku.
"Iya, sayang, beneran."
"Kamu jangan banyak pikiran nanti stress."
Aku senyum. Aku memaksa senyum, maksudku. Untuk membuatku terlihat lebih baik-baik saja. "Iya, siap!"
"Al.."
"Iya?"
"Kamu cantik."
Deg.
Aku jadi gugup.
"Saya beruntung miliki kamu, Al."
Aku diam saja. Pikiranku konslet. Moodku langsung berubah drastis. Alasannya tak lain tak bukan karena aku mendadak kepikiran pria itu.
Bagaimana Robby bisa beruntung memilikiku?
Robby merupakan anak seorang direktur utama perusahaan gula. Dia sendiri adalah seorangg direktur keuangannya. Muda, mapan, kaya, tampan, baik, tidak kasar, bukan perokok, apalagi yang kurang? Bagaimana dia bisa memilih seorang gadis sepertiku????
Yang ada, aku yang beruntung memiliki kamu, Robby.
7.15
Robby memberhentikan mobilnya tepat didepan pintu utama kantorku.
"Aku jemput jam 5, ya?" tanya Robby sebelum aku turun.
"Iya."
"Al.." Panggil Robby tepat setelah aku baru saja membuka pintu. Ia menatapku serius, seperti ingin mengatakan sesuatu yang serius pula.
5 detik.
"Saya pengin dengar pengakuan dari kamu."
Aku diam sejenak, menerka-nerka maksud Robby. Mendadak jantungku berdebar. "P...pengakuan apa?"
"Kalau kamu terima saya, Al."
Aku menelan ludah. Apa maksudnya? Apa Robby tahu pertemuanku kemarin dengan Alfian? Apa jangan-jangan Robby sudah tahu siapa Alfian!
Tiba-tiba Robby meraih tanganku dan menggenggamnya. Ia meminta kepastian jawaban dariku. Tampak jelas di matanya.
Aku menghela napas. "Iya, Robby. Aku terima kamu. Aku sayang kamu."
"Tulus, Al?"
Aku diam dulu sejenak. Menguatkan diri.
"Tulus, Robby."
Kemudian, ia melepaskan genggamannya dan memberi isyarat untuk aku segera turun. Aku turun. Lalu, bergegas masuk kantor dengan lesu. Dengan segudang pikiran yang sebenarnya tak mau aku pikirkan.
11.30
Aku menjatuhkan kepala di atas meja kerjaku. Rasanya kepalaku berat sekali.
Aku kepikiran Robby.
Juga, kepikiran pria brengsek itu.
Aku mengetuk-ketukkan kuku ke atas meja seperti sedang menemukan keputusan yang tepat. Juga, sembari merenungi kata-kataku pada Robby pagi tadi. Sekarang, aku jadi ragu. Apakah benar aku terima Robby? Apakah iya aku menyayangi Robby?
Argh!!!
"Alisa, ada yang cari kamu diluar."
Lamunanku dibuyarkan oleh Yulia, rekan kerjaku.
Pasti Robby.
Ini sudah jam istirahat.
Dari dulu, Robby memang begitu. Kalau dia ada kepikiran sesuatu tentangku, ia langsung datang menemuiku. Tidak melalui telepon atau sms lagi. Tapi, langsung datang ke tempat dimana aku berada. Sesibuk apapun dia. Begitulah Robby mencintaiku.
Aku berdiri, menghela napas panjang sebagai persiapan.
Kemudian, berjalan keluar.
Sampai diluar, aku tidak mendapati sosok pria itu. Aku berjalan menuju parkiran, barangkali ia menunggu di mobil.
Tidak ada juga.
Ketika aku hendak berbalik, seseorang menghampiriku. Ia mengenakan seragam putih lengan pendek dengan bordiran garis-garis di kedua bahunya, dasi hitam, dan celana bahan hitam. Berjalan gagah ke arahku.
Aku kaget bukan main. Ingin rasanya melarikan diri tapi kakiku serasa tertahan.
Tanpa basa basi, pria itu menarik tanganku. "Ikut saya, Al."
Aku berjalan tegopoh-gopoh mengikuti langkahnya. Ia menuju parkiran mobil di belakang. Kemudian membawaku ke sebuah mobil merah yang terpakir sendirian di sana. Ia menyuruhku masuk. Tak tahu kenapa, aku nurut saja. Aku duduk dengan gugup.
Kemudian, ia juga masuk dan duduk dibalik kemudi.
"Al.." Katanya seraya menatapku dalam-dalam. Ia menggenggam tanganku. "Waktu saya nggak banyak. Saya pengin minta maaf sama kamu. Saya cinta sama kamu, Al. Maaf, saya baru datang sekarang. Tapi, ini yang mau saja tunjukkan ke kamu, Al. Saya yang sekarang ini. Saya nggak tahu harus gimana dengan kamu sekarang."
Rasanya, aku tak bisa berbuat apa-apa. Untuk bersedih pun aku tidak bisa.
"Tugas saya setelah ini akan lama, Al. Saya nggak bisa datang ke hari bahagia kamu dengan calon suamimu. Ini adalah yang terakhir kalinya sebelum saya benar-benar kehilangan kamu, Al." Tiba-tiba, air mata Alfian menetes. Mukanya memerah. Ia tampak sedih sekali. Ia menggenggam tanganku lebih erat. "Saya pengin lakukan banyak hal sama kamu, Al, sebelum saya kehilangan kamu. Tapi, saya nggak bisa tinggalkan tugas saya."
"Fian..." Aku memanggilnya lirih.
Tanganku mengayun ke arah kepalanya dan mengusap rambutnya lembut, seperti yang sering kulakukan dulu kalau dia sedang banyak masalah. Aku mengusapnya tulus. Tulus sekali.
"Al.." Ia melanjutkan. "Rasanya kepala saya mau pecah, Al. Saya benar-benar nggak punya waktu untuk minta kesempatan sama kamu."
Alfian menitikkan air mata lagi. Semakin deras.
"Saya pengin bilang ke kamu, Alisa."
"Fian..."
"Cinta saya untuk kamu tulus, Al. Nggak berubah sedikitpun selama 7 tahun. Saya nggak bisa kehilangan kamu, Al. Kalau saya kehilangan kamu, saya nggak mau cari siapa-siapa lagi. Saya pengin kamu. Tapi, saya sadar, hati kamu sudah berubah. Ada yang lebih baik dari saya. Jauh lebih baik. Saya tahu siapa calon suamimu. Saya percaya dia bisa menjaga kamu lebih dari saya, Al. Saya yakin dia pantas menjadi ayah dari anak-anak kamu nanti. Saya... saya..."
Tangis Alfian menjadi-jadi. Ia tak bisa meneruskan kata-katanya lagi.
"Saya.... c-cinta sama kamu, Alisa.... Sangat cinta..."
"Fian..." Tak terasa, bulir demi bulir air mata juga ikut jatuh dari pelupuk mataku.
Aku mengusap punggung Alfian, menenagkannya.
"Saya nggak pengin siapa-siapa lagi, Al... Saya menunggu kamu..." Alfian menggeleng-gelengkan kepalanya. "Saya pengin kasih tau kamu sekarang saya sudah bisa halalkan kamu... saya pengin kamu melihat saya sebagai Alfian yang baru... Saya..."
Alfian sesenggukkan. Tapi, ia berusaha sekuat tenaga melanjutkan kata-katanya.
"Saya berterimakasih sama kamu,Al... kamu merubah saya... kamu mendorong saya untuk berubah..."
"Fian..."
Aku menarik badan Fina lalu memeluknya. Ia menangis dibahuku. Aku terus mengusap-usap punggungnya. Ini menyakitkan bagi dia. Dan juga aku.
Tangisku pecah.
"Saya sangat tulus dengan kamu, Al... s...sa...saya... sa...ya siap..." Katanya terbata-bata disela-sela tangisnya. "...untuk... halalkan kamu... sa..saya ingin hidup bersama kamu, Al. Hanya bersama kamu..."
"Fian, plis..."
Alfian tak henti-hentinya menangis. Baru kali ini aku melihatnya menangis sejadi ini. Badannya bergetar hebat. Ia sesenggukkan tak mampu menahan sakit batinnya yang kutahu pasti amat menyakitkan.
12.15
Aku dan Alfian mulai tenang.
Alfian bilang, ia harus betugas pukul 1 siang. Sebentar lagi.
"Fian.." Panggilku lembut. Aku menatapnya sendu. Begitupun sebaliknya. Ia menatapku penuh sesal, barangkali. "Kamu gagah sekali dengan seragam pilotmu."
Alfian melirik seragamnya yang sedikit basah karena air matanya juga air mataku. "Ini hadiah saya untuk kamu, Al. Saya harus terlihat gagah."
Aku tersenyum, meskipun sulit. "Makasih, ya. Kamu sudah berusaha sekeras ini. Aku senang, Fian, kamu udah jadi seperti sekarang. Sudah lebih mandiri dan berjuang untuk hidupmu."
Alfian juga tersenyum walaupun tampak kesulitan juga. "Al, saya pamit, ya. Waktu saya nggak banyak. Saya harus disiplin, kan? Dulu kamu sering sekali mengingatkan saya harus disiplin."
"Hahaha... Iya. Dulu aku sampai marah-marah karena kamu sering telat." Lalu, kami tertawa. "Ya sudah, Fian, aku turun ya."
Meskipun sangat keberatan, tapi, Alfian mengiyakan. Kemudian, aku membuka pintu dan keluar, bersamaan dengan Alfian menyalakan mesin mobilnya. Sebelum meninggalkanku, ia membuat jendela mobilnya dan melambaikan tangan ke arahku. Aku membalasnya.
Kemudian, mobil Alfian melaju meninggalkanku. Kali ini dengan pamit.
12.20
Aku kaget. Robby ada di depan kantorku.
Jangan-jangan ia tahu soal tadi...
Ya ampun!
Aku berbalik badan dan menuju pintu belakang kantor. Setelah itu, aku masuk melalui pintu 'tersembunyi' tersebut dan menyelinap masuk menuju meja kerjaku.
Yulia ada di samping meja kerjaku. Buru-buru aku interogasi dia.
"Yulia!" Aku memanggilnya.
Yulia tampak aneh aku datang dari arah belakang. "Lho... itu calon suami kamu ada diluar..."
"Iya... ssssttt... dia tanya nggak aku kemana?"
"Tanya."
"Trus?"
"Aku jawab tadi kamu keluar nemuin cowok. Aku kira itu calon suami kamu. Ternyata dia baru datang sekarang. Terus tadi siapa??"
"Aduhhh.... kamu gimana, sih, Yul!"
"Aku nggak ngerti, Al. Cowok yang tadi itu siapa??"
Aku tidak menghiraukan pertanyaan Yulia. Buru-buru aku bergegas keluar dan menemui Robby yang pasti sudah menungguku.
"Hai." Sapaku saat baru saja membuka pintu utama kantor.
Robby menoleh. Ia sedang menggenggam ponsel. Mungkin sedang berusaha menghubungiku. Setelah melihatku, dia buru-buru memasukan ponselnya ke dalam saku dan menghadapku.
"Daritadi?" Tanyaku lebih lanjut. Sekaligus menghindari dia bertanya aku tadi kemana.
"Hmm.. baru. Tapi, tadi kata temanmu..."
"Ah! Itu! Itu ada klien-ku. Dia minta ketemuan sama aku langsung karena selama ini cuma lewat sms. Dia datang jauh-jauh dari luar kota, loh." Robby mengangguk-angguk. Ia tidak curiga sama sekali tampaknya. "Kamu ada apa kesini?"
"Aku kepikiran kamu."
Benar dugaanku.
Aku mengernyit. "Kepikiran kenapa, sayang?"
"Aku mau pastikan kamu benar-benar baik-baik saja, Al."
Aku tersenyum, kemudian memegang bahunya. Meyakinkan. "Aku baik-baik saja, Robby. Selalu baik-baik saja."
Robby tersenyum lega. Gantian, dia yang memegang bahuku dan mengelusnya lembut. "Ya sudah, hanya mau ketemu sebentar. Aku ke kantor lagi, ya? Lagi banyak urusan. Aku sepertinya lembur."
"Hmm... gitu.." Aku memanggut-manggut mengerti. "Ingat, jangan banyak pikiran. hehe."
Robby terkikik pelan. "Iya, sayang. Kalau aku nggak bisa jemput kamu nanti sore, aku sudah suruh Pak Andi, supir kantorku, untuk jemput kamu, Al."
"Hah?? Nggak usah, Robby.. Aku bisa pulang sendiri."
"Sudah, pokoknya kalau aku nggak bisa ada pak Andi. Ya?"
Aku tak bisa mengelak lagi. Lalu, mengiyakan.
Kemudian, Robby kembali ke mobilnya dan bergegas meninggalkanku.
Ya.
Begitulah sosok Robby.
06.30
Barusan kak Ega memberitahuku bahwa mobil Robby sudah ada di depan. Padahal, baru saja aku mengirim pesan pada Robby untuk tidak mengantarku ke kantor. Tapi, mungkin Robby belum sempat membacanya.
Aku buru-buru memakan blazer hitam yang menggantung dibalik pintu dan bersegera keluar kamar.
Robby sudah menunggu di ruang tamu. Ia sedang berbincang dengan Ibuku. Mereka berdua tampak akrab sekali. Ya, Ibuku juga jatuh cinta pada Robby, barangkali.
Setelah pamit, aku dan Robby keluar dan memasuki mobil. Kemudian, melaju.
5 menit hening.
"Gimana kemarin urusan kantornya, Al?" Tanya Robby membuka obrolan seraya bergantian menengok ke arahku dan ke jalan. "Udah selesai?"
Aku berusaha tenang agar tidak ketahuan. "Oh... iya, lancar."
"Syukur, kalau begitu."
"Hehe, iya."
Kemudian, hening lagi beberapa saat.
"Sayang.." Panggil Robby memecah hening lagi. "Kemarin aku udah kontak temanku, si Rian, buat jadi EO pernikahan kita. Dan dia bilang bisa. Jadi, besok atau lusa kita ketemuan sama dia untuk ngobrolin acarnaya, ya."
"Oh... iya."
"Kamu kenapa?"
Aku berusaha lebih tenang agar Robby tidak curiga. "Nggak kenapa-kenapa, kok. Oh, iya, jam berapa ketemuannya??"
"Bener nggak kenapa-kenapa?" Robby meyakinkan tanpa menjawab pertanyaanku.
"Iya, sayang, beneran."
"Kamu jangan banyak pikiran nanti stress."
Aku senyum. Aku memaksa senyum, maksudku. Untuk membuatku terlihat lebih baik-baik saja. "Iya, siap!"
"Al.."
"Iya?"
"Kamu cantik."
Deg.
Aku jadi gugup.
"Saya beruntung miliki kamu, Al."
Aku diam saja. Pikiranku konslet. Moodku langsung berubah drastis. Alasannya tak lain tak bukan karena aku mendadak kepikiran pria itu.
Bagaimana Robby bisa beruntung memilikiku?
Robby merupakan anak seorang direktur utama perusahaan gula. Dia sendiri adalah seorangg direktur keuangannya. Muda, mapan, kaya, tampan, baik, tidak kasar, bukan perokok, apalagi yang kurang? Bagaimana dia bisa memilih seorang gadis sepertiku????
Yang ada, aku yang beruntung memiliki kamu, Robby.
7.15
Robby memberhentikan mobilnya tepat didepan pintu utama kantorku.
"Aku jemput jam 5, ya?" tanya Robby sebelum aku turun.
"Iya."
"Al.." Panggil Robby tepat setelah aku baru saja membuka pintu. Ia menatapku serius, seperti ingin mengatakan sesuatu yang serius pula.
5 detik.
"Saya pengin dengar pengakuan dari kamu."
Aku diam sejenak, menerka-nerka maksud Robby. Mendadak jantungku berdebar. "P...pengakuan apa?"
"Kalau kamu terima saya, Al."
Aku menelan ludah. Apa maksudnya? Apa Robby tahu pertemuanku kemarin dengan Alfian? Apa jangan-jangan Robby sudah tahu siapa Alfian!
Tiba-tiba Robby meraih tanganku dan menggenggamnya. Ia meminta kepastian jawaban dariku. Tampak jelas di matanya.
Aku menghela napas. "Iya, Robby. Aku terima kamu. Aku sayang kamu."
"Tulus, Al?"
Aku diam dulu sejenak. Menguatkan diri.
"Tulus, Robby."
Kemudian, ia melepaskan genggamannya dan memberi isyarat untuk aku segera turun. Aku turun. Lalu, bergegas masuk kantor dengan lesu. Dengan segudang pikiran yang sebenarnya tak mau aku pikirkan.
11.30
Aku menjatuhkan kepala di atas meja kerjaku. Rasanya kepalaku berat sekali.
Aku kepikiran Robby.
Juga, kepikiran pria brengsek itu.
Aku mengetuk-ketukkan kuku ke atas meja seperti sedang menemukan keputusan yang tepat. Juga, sembari merenungi kata-kataku pada Robby pagi tadi. Sekarang, aku jadi ragu. Apakah benar aku terima Robby? Apakah iya aku menyayangi Robby?
Argh!!!
"Alisa, ada yang cari kamu diluar."
Lamunanku dibuyarkan oleh Yulia, rekan kerjaku.
Pasti Robby.
Ini sudah jam istirahat.
Dari dulu, Robby memang begitu. Kalau dia ada kepikiran sesuatu tentangku, ia langsung datang menemuiku. Tidak melalui telepon atau sms lagi. Tapi, langsung datang ke tempat dimana aku berada. Sesibuk apapun dia. Begitulah Robby mencintaiku.
Aku berdiri, menghela napas panjang sebagai persiapan.
Kemudian, berjalan keluar.
Sampai diluar, aku tidak mendapati sosok pria itu. Aku berjalan menuju parkiran, barangkali ia menunggu di mobil.
Tidak ada juga.
Ketika aku hendak berbalik, seseorang menghampiriku. Ia mengenakan seragam putih lengan pendek dengan bordiran garis-garis di kedua bahunya, dasi hitam, dan celana bahan hitam. Berjalan gagah ke arahku.
Aku kaget bukan main. Ingin rasanya melarikan diri tapi kakiku serasa tertahan.
Tanpa basa basi, pria itu menarik tanganku. "Ikut saya, Al."
Aku berjalan tegopoh-gopoh mengikuti langkahnya. Ia menuju parkiran mobil di belakang. Kemudian membawaku ke sebuah mobil merah yang terpakir sendirian di sana. Ia menyuruhku masuk. Tak tahu kenapa, aku nurut saja. Aku duduk dengan gugup.
Kemudian, ia juga masuk dan duduk dibalik kemudi.
"Al.." Katanya seraya menatapku dalam-dalam. Ia menggenggam tanganku. "Waktu saya nggak banyak. Saya pengin minta maaf sama kamu. Saya cinta sama kamu, Al. Maaf, saya baru datang sekarang. Tapi, ini yang mau saja tunjukkan ke kamu, Al. Saya yang sekarang ini. Saya nggak tahu harus gimana dengan kamu sekarang."
Rasanya, aku tak bisa berbuat apa-apa. Untuk bersedih pun aku tidak bisa.
"Tugas saya setelah ini akan lama, Al. Saya nggak bisa datang ke hari bahagia kamu dengan calon suamimu. Ini adalah yang terakhir kalinya sebelum saya benar-benar kehilangan kamu, Al." Tiba-tiba, air mata Alfian menetes. Mukanya memerah. Ia tampak sedih sekali. Ia menggenggam tanganku lebih erat. "Saya pengin lakukan banyak hal sama kamu, Al, sebelum saya kehilangan kamu. Tapi, saya nggak bisa tinggalkan tugas saya."
"Fian..." Aku memanggilnya lirih.
Tanganku mengayun ke arah kepalanya dan mengusap rambutnya lembut, seperti yang sering kulakukan dulu kalau dia sedang banyak masalah. Aku mengusapnya tulus. Tulus sekali.
"Al.." Ia melanjutkan. "Rasanya kepala saya mau pecah, Al. Saya benar-benar nggak punya waktu untuk minta kesempatan sama kamu."
Alfian menitikkan air mata lagi. Semakin deras.
"Saya pengin bilang ke kamu, Alisa."
"Fian..."
"Cinta saya untuk kamu tulus, Al. Nggak berubah sedikitpun selama 7 tahun. Saya nggak bisa kehilangan kamu, Al. Kalau saya kehilangan kamu, saya nggak mau cari siapa-siapa lagi. Saya pengin kamu. Tapi, saya sadar, hati kamu sudah berubah. Ada yang lebih baik dari saya. Jauh lebih baik. Saya tahu siapa calon suamimu. Saya percaya dia bisa menjaga kamu lebih dari saya, Al. Saya yakin dia pantas menjadi ayah dari anak-anak kamu nanti. Saya... saya..."
Tangis Alfian menjadi-jadi. Ia tak bisa meneruskan kata-katanya lagi.
"Saya.... c-cinta sama kamu, Alisa.... Sangat cinta..."
"Fian..." Tak terasa, bulir demi bulir air mata juga ikut jatuh dari pelupuk mataku.
Aku mengusap punggung Alfian, menenagkannya.
"Saya nggak pengin siapa-siapa lagi, Al... Saya menunggu kamu..." Alfian menggeleng-gelengkan kepalanya. "Saya pengin kasih tau kamu sekarang saya sudah bisa halalkan kamu... saya pengin kamu melihat saya sebagai Alfian yang baru... Saya..."
Alfian sesenggukkan. Tapi, ia berusaha sekuat tenaga melanjutkan kata-katanya.
"Saya berterimakasih sama kamu,Al... kamu merubah saya... kamu mendorong saya untuk berubah..."
"Fian..."
Aku menarik badan Fina lalu memeluknya. Ia menangis dibahuku. Aku terus mengusap-usap punggungnya. Ini menyakitkan bagi dia. Dan juga aku.
Tangisku pecah.
"Saya sangat tulus dengan kamu, Al... s...sa...saya... sa...ya siap..." Katanya terbata-bata disela-sela tangisnya. "...untuk... halalkan kamu... sa..saya ingin hidup bersama kamu, Al. Hanya bersama kamu..."
"Fian, plis..."
Alfian tak henti-hentinya menangis. Baru kali ini aku melihatnya menangis sejadi ini. Badannya bergetar hebat. Ia sesenggukkan tak mampu menahan sakit batinnya yang kutahu pasti amat menyakitkan.
12.15
Aku dan Alfian mulai tenang.
Alfian bilang, ia harus betugas pukul 1 siang. Sebentar lagi.
"Fian.." Panggilku lembut. Aku menatapnya sendu. Begitupun sebaliknya. Ia menatapku penuh sesal, barangkali. "Kamu gagah sekali dengan seragam pilotmu."
Alfian melirik seragamnya yang sedikit basah karena air matanya juga air mataku. "Ini hadiah saya untuk kamu, Al. Saya harus terlihat gagah."
Aku tersenyum, meskipun sulit. "Makasih, ya. Kamu sudah berusaha sekeras ini. Aku senang, Fian, kamu udah jadi seperti sekarang. Sudah lebih mandiri dan berjuang untuk hidupmu."
Alfian juga tersenyum walaupun tampak kesulitan juga. "Al, saya pamit, ya. Waktu saya nggak banyak. Saya harus disiplin, kan? Dulu kamu sering sekali mengingatkan saya harus disiplin."
"Hahaha... Iya. Dulu aku sampai marah-marah karena kamu sering telat." Lalu, kami tertawa. "Ya sudah, Fian, aku turun ya."
Meskipun sangat keberatan, tapi, Alfian mengiyakan. Kemudian, aku membuka pintu dan keluar, bersamaan dengan Alfian menyalakan mesin mobilnya. Sebelum meninggalkanku, ia membuat jendela mobilnya dan melambaikan tangan ke arahku. Aku membalasnya.
Kemudian, mobil Alfian melaju meninggalkanku. Kali ini dengan pamit.
12.20
Aku kaget. Robby ada di depan kantorku.
Jangan-jangan ia tahu soal tadi...
Ya ampun!
Aku berbalik badan dan menuju pintu belakang kantor. Setelah itu, aku masuk melalui pintu 'tersembunyi' tersebut dan menyelinap masuk menuju meja kerjaku.
Yulia ada di samping meja kerjaku. Buru-buru aku interogasi dia.
"Yulia!" Aku memanggilnya.
Yulia tampak aneh aku datang dari arah belakang. "Lho... itu calon suami kamu ada diluar..."
"Iya... ssssttt... dia tanya nggak aku kemana?"
"Tanya."
"Trus?"
"Aku jawab tadi kamu keluar nemuin cowok. Aku kira itu calon suami kamu. Ternyata dia baru datang sekarang. Terus tadi siapa??"
"Aduhhh.... kamu gimana, sih, Yul!"
"Aku nggak ngerti, Al. Cowok yang tadi itu siapa??"
Aku tidak menghiraukan pertanyaan Yulia. Buru-buru aku bergegas keluar dan menemui Robby yang pasti sudah menungguku.
"Hai." Sapaku saat baru saja membuka pintu utama kantor.
Robby menoleh. Ia sedang menggenggam ponsel. Mungkin sedang berusaha menghubungiku. Setelah melihatku, dia buru-buru memasukan ponselnya ke dalam saku dan menghadapku.
"Daritadi?" Tanyaku lebih lanjut. Sekaligus menghindari dia bertanya aku tadi kemana.
"Hmm.. baru. Tapi, tadi kata temanmu..."
"Ah! Itu! Itu ada klien-ku. Dia minta ketemuan sama aku langsung karena selama ini cuma lewat sms. Dia datang jauh-jauh dari luar kota, loh." Robby mengangguk-angguk. Ia tidak curiga sama sekali tampaknya. "Kamu ada apa kesini?"
"Aku kepikiran kamu."
Benar dugaanku.
Aku mengernyit. "Kepikiran kenapa, sayang?"
"Aku mau pastikan kamu benar-benar baik-baik saja, Al."
Aku tersenyum, kemudian memegang bahunya. Meyakinkan. "Aku baik-baik saja, Robby. Selalu baik-baik saja."
Robby tersenyum lega. Gantian, dia yang memegang bahuku dan mengelusnya lembut. "Ya sudah, hanya mau ketemu sebentar. Aku ke kantor lagi, ya? Lagi banyak urusan. Aku sepertinya lembur."
"Hmm... gitu.." Aku memanggut-manggut mengerti. "Ingat, jangan banyak pikiran. hehe."
Robby terkikik pelan. "Iya, sayang. Kalau aku nggak bisa jemput kamu nanti sore, aku sudah suruh Pak Andi, supir kantorku, untuk jemput kamu, Al."
"Hah?? Nggak usah, Robby.. Aku bisa pulang sendiri."
"Sudah, pokoknya kalau aku nggak bisa ada pak Andi. Ya?"
Aku tak bisa mengelak lagi. Lalu, mengiyakan.
Kemudian, Robby kembali ke mobilnya dan bergegas meninggalkanku.
Ya.
Begitulah sosok Robby.
Komentar
Posting Komentar