November Kelabu (Chapter 1: Lamaran)
Minggu, 3 November 2013
Ibuku... Ada di sampingku. Sedang merias diri, sepertiku.
Aku diam saja.
08.00
Hari ini, libur nasional. Keluarga besar Robby akan datang.
Bi Dian, pembantuku, dan Mang Agus, tukang kebun dirumahku, sedang menyulap ruang tamu menjadi aula pertemuan dadakan. Barang-barangnya dipindahkan sementara ke dalam ruangan-ruangan.
Kak Ega, Kakakku, sedang menata hidangan makanan dan minuman di ruang tamu.
Ayahku, sedang membaca koran di kamarnya. Bersantai.
Ibuku... Ada di sampingku. Sedang merias diri, sepertiku.
08.15
Seisi rumahku sudah siap untuk penyambutan keluarga besar Robby. Kami semua berkumpul di ruang tamu, kecuali Ayah. Ia masih di kamarnya.
08.30
Keluarga Robby datang. 4 mobil terpakir berjejer di depan rumahku. Kalau ditotal, ada sekitar 20 orang, sudah termasuk kakek-neneknya.
Kedatangan mereka disambut hangat. Ayahku sudah keluar kamar. Kami bersalam-salaman.
Sementara jantungku berdegup kencang. Tanganku dingin mendadak. Ketika aku melihat wajah Robby, ia tersenyum, namun, aku tidak. Aku terlalu gugup. Padahal, ini hanya acara lamaran saja.
Kemudian, kami semua duduk dan berbincang-bincang. Kelamaan, perbincangan tersebut mengarah pada inti acara, yaitu acara pelamaran.
09.00
Acara inti dimulai dengan penyerahan cincin. Ibunya Robby, wanita paruh baya yang masih tampak muda, memakaikan cincin ke tanganku. Aku degdegan bukan main. Sampai Kak Ega memintaku tersenyum pun aku tidak menghiraukan.
Kemudian, berlanjut dengan membicarakan tanggal pernikahan dan segala hal yang berhubungan dengan pernikahanku dengan Robby.
09.15
Diskusi selesai.
Keluargaku dan keluarga Robby sepakat untuk menggelar pernikahan pada Sabtu, 30 November 2012. Tepat akhir bulan November. Sekitar 4 minggu lagi. Bertempat di Gedung Java Raya. Beserta hal-hal lain seperti catering, rias pengantin, dan wedding organizer telah disepakati.
Sepanjang acara, Robby terus menatapku dengan senyum.
Aku pernah bilang, aku jatuh cinta dengan senyumnya. Sejak saat itu, dia tak pernah lupa tersenyum padaku seburuk apapun harinya.
Robby adalah pria berusia 25 tahun, tinggi 170cm, berkulit sawo matang, seorang direktur keuangan di perusahaan gula, mapan, dan sempurna. Aku beruntung memilikinya. Tidak ada satupun sifatnya yang bertentangan dengan kriteria menantu idaman Ibuku. Karena itu, Ibuku sangat merestui hubunganku dengan Robby dan buru-buru ambil inisiatif untuk melangsungkan pernikahan. Termasuk acara ini adalah ide dari Ibuku.
09.30
Penjamuan tamu selesai. Keluarga besar Robby pamit pulang. Keluargaku mengantarnya sampai mobil-mobil itu pergi.
10.00
Ah..lega.
Aku berbaring telentang di ranjang dan menghembuskan napas lega. Aku membayangkan... bagaimana pernikahanku nanti akan berlansung. Tapi, aku tak mau terlalu larut menghayal tentang pernikahanku. Alasannya, kalau aku terlalu memusingkan sesuatu, seringkali sesuatu tersebut berjalan malah tidak sesuai dengan yang telah kita harapkan. Jadi, aku berusaha mengalihkan pikiran untuk tidak memikirkan bagaimana pernikahanku nanti.
Aku mengecek ponselku. Ada pesan dari Robby. Baru saja aku ingin membalasnya, ia menelpon.
"Halo.." Ucapku membuka obrolan. Aku bangkit duduk. Semangat.
"Kamu kenapa?" Tanyanya dari seberang.
"Hah? Eng... Baik-baik saja. Ada apa?"
"Tadi diam saja. Mamah sampai tanya, kamu lagi sakit?"
"Hah? Enggak, enggak, aku baik-baik saja. Hehe. Aku gugup. Aku tadi sampai lupa nafas."
Robby tertawa renyah. "Hah? Serius? Ya ampun sayang... Kok bisa? Sekarang gimana?? Sudah nafas?"
"Hmm.. Udah." Jawabku. Robby tertawa kecil. "Kamu udah sampai rumah?"
"Belum. Ini lagi beli nasi padang."
"Ohh..." Jawabku singkat. Tidak ada sahutan lagi. "Robby..."
"Iya, sayang?"
"Aku nggak nyangka kita bisa seserius ini." Kataku seraya menatap cincin emas yang melingkat di jari manisku. Bandul cincin itu berbentuk infinity.
Robby tersenyum. Bisa kudengar dari hembusan napasnya. "Al, saya sayang sama kamu. Saya pengin miliki kamu. Pas kamu bilang kamu siap, saya senang."
Rasanya, aku ingin menangis. Bukan, bukan karena ucapan Robby. Tapi, karena hal lain yang akan aku jelaskan nanti.
"Aku juga senang."
"Al... nanti saya telepon lagi, ya, kalau sudah dirumah."
"Iya. Hati-hati."
"Aku tutup, ya, Al. I love you."
Aku diam saja.
**
Kamis, 7 November 2013
12.00
Aku berada di mobil, di samping Robby yang sedang mengemudi. Lebih tepatnya, sedang memarkirkan mobil.
Setelah beres, ia mematikan mesin mobilnya, lalu, membuka kunci pintu.
Dia melirikku. "Yuk."
Aku mengiyakan dengan segera membuka pintu mobil dan turun.
Robby menyampariku dan langsung menggandeng tanganku untuk bersamaan masuk ke salon tempat rias pengantin.
13.00
Kami sudah menentukan baju yang akan dipakai nanti. Aku mengenakan kebaya merah dan Robby mengenakas jas merah. Tidak lupa kami juga sudah tentukan baju yang akan dipakai orangtuaku dan orangtua Robby serta pagar ayunya. Untuk riasan gedung juga sudah kami tentukan temanya.
13.15
Setelah membayar dan mereservasi tanggal, kami pulang. Tepatnya, Robby mengantarku ke kantor, kemudian ia juga kembali ke kantornya.
"Nanti jam 5 aku jemput, ya."
Aku tersenyum dan mengangguk.
Kemudian, mobil Robby pergi meninggalkan halaman parkir kantorku.
**
Minggu, 10 November 2013
Hari ini, aku dan Robby sudah membuat janji untuk pergi menonton, makan siang, dan mencari catering, kalau sempat.
09.00
"ALISAAA!! ADA ROBBY!!" Teriak Kak Ega dari ruang tamu. Suaranya menggelegar sampai ke kamarku di lantai 2.
Aku, yang sedang merapikan rambut, buru-buru menyudahi riasanku dan bergegas turun.
Aku lihat Robby sedang duduk di ruang tamu seraya membaca majalah otomotif yang tergeletak di meja ruang tamu. Milik Mas Arman, suaminya kak Ega.
Robby memang hobi dengan hal-hal yang berbau otomotif. Bahkan, dulu waktu kuliah, dia sering sekali touring bersama teman-temannya keluar kota. Dia mengerti sekali seluk-beluk mengenai dunia per-motoran dan per-mobilan. Tidak tanggung-tanggung, dia juga mengoleksi beberapa motor jadul di rumahnya. Walaupun sudah tidak bisa dipakai.
Namun, hal tersebut tampak biasa bagiku. Aku sudah mengerti hobi seperti itu.
"Hai." Sapaku.
Robby mengalihkan pandangannya menatapku. Seperti biasa, dia tersenyum. Manis sekali.
11.00
Aku sedang duduk. Sementara Robby sedang mengantre tiket. Aku tidak memintanya demikian. Namun, ia memaksaku untuk duduk saja dan membiarkan ia yang mengantre tiketnya. Antriannya lumayan panjang karena weekend.
11.15
Robby akhirnya selesai dan menghampiriku sedang dua gelas minuman soda ditangannya serta sekotak besar popcorn.
Aku kaget. Aku tidak bisa meminum soda-sodaan.
"Nggak mau?" Tanyanya seraya menyodorkan segelas minuman sodanya.
Aku sempat jengkel sesaat. Ia tahu aku tidak suka soda. Namun, begitu ia menyodorkan, aku terima saja. Kami berdua duduk di lobi menunggu teater dibuka.
"Sama-sama." Ujarnya tanpa aku mengucapkan terimakasih.
Aku diam saja.
Aku kesal.
Padahal, dia tahu betul aku tidak bisa meminum soda.
11.20
"Kok nggak diminum?"
Aku diam saja.
"Sayang..." Tangan Robby meraih minuman soda di tanganku kemudian ia membuka tutupnya. Aku mengikuti gerak-gerik tangannya. "Ini jus melon, kesukaan kamu. Tadi, wadahnya habis. Jadi, pakai tempat soda."
Deg.
Aku meliriknya dengan penuh sesal.
"Sekarang diminum, ya, soda melonnya." Ujarnya sambil tersenyum. Tulus sekali.
Ah, Robby. Pria ini benar-benar.
14.00
Aku dan Robby keluar teater.
"Kamu nangis?" Tanya Robby. Ia menatapku sambil tersenyum mengejek.
Aku membuang muka. "Ahhhh... jangan dilihat. Malu."
"Hahaha... Aku baru, loh, lihat kamu nangis. Udah, ih, jangan nangis." Ujar Robby seraya tangannya berusaha meraih mukaku.
Aku menghindar lagi. "Hahaha... aku paling nggak bisa tonton film sedih."
"Terus, kenapa minta nonton film itu?"
"Tapi, aku suka."
Robby terkikik saja. Kemudian, ia merangkulku. Kami berjalan menuju restoran untuk makan siang.
15.00
Drrrt. Drrrrt.
Ponsel Robby yang ditaruh diatas meja tepat di samping piring makanannya bergetar.
Aku dan Robby yang sedang asyik berbincang terhenti sejenak.
"Bentar, ya." Katanya seraya meraih ponsel dan menjawab panggilan. "Iya, Ma? Ini... lagi di luar sama Alisa. Ada apa? Ohh... Iya, iya. Dah."
"Ada apa?" Tanyaku langsung setelah ia menutup panggilannnya.
"Ini... Mama minta aku jemput Risa di stasiun. Dia pulang."
"Sekarang?"
"Iya. Keretanya jam setengah empat." Robby melirik jam tangannya. "Sebentar lagi."
"Ya sudah, ayo." Kataku sambil merapikan barang-barangku ke dalam tas.
"Tapi, Al.."
"Ada apa?"
"Cateringnya?"
Aku tersenyum. "Besok saja aku yang pesan. Besok kerjaanku sedikit."
"Nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa, Robby."
Robby tersenyum saja. Lalu, kami bergegas ke mobil.
**
Komentar
Posting Komentar